14 Oktober 2008

Mudik Lebaran

Libur Lebaran kemaren gue cukup lama pulang kota, ya, sekitar dua minggu lah. Dan selama itu pula gue sama sekali gak mau berhubungan dengan dunia lain. Fokus utama gue adalah keluarga dan teman-teman.
Jadi selama hampir 3 minggu ini gue sama sekali nggak ter koneksi ke internet, gak nulis blog, gak surfing-surfing, ga chatting , kirim-kirim testi, dll/


Tanggal 12 kemarin gue baru kembali lagi ke kerjaan gue, dan baru sekarang sempet nulis blog lagi.’

Tulisan blog ini akan gue bagi dalam beberapa tulisan. Di tulisan pertama ini gue akan cerita bagaimana serunya mudik Lebaran.

Yup, Tanggal 26 September sore hari, gue cepet-cepet pulang dari kantor, setelah minta ijin dulu, pamit ke seluruh rekan-rekan kantor. dengan dibantu oleh Agen Tiket langganan gue, gue dapat tiket lion dengan harga yang lumayan miring.
Sampai di rumah mertua gue di Kawasan Cempaka Putih Jakarta, disambut oleh wajah Imut Junior gue, seketika rasa lelahpun hilang setelah menempuh perjalanan udara 2 jam, belum ditambah nunggu di bandara polonia, plus naik damri dari cengkareng menuju Perempatan coca-cola, plus taksi dari perempatan coca cola ke cempaka putih.

Akhirnya rencana mudik ke Jogja sampai juga. Setelah buka puasa, plus leyeh-leyeh sebentar, selanjutnya setelah sholat Isya meluncurlah kami berlima menuju Jogja. Yup, gue, istri, Junior plus adik Ipar ditambah Pak Nur, Sopir setia Mertua gue.

Tepat Jam 8 malam, kami berangkat. Selama perjalanan di dalam tol dalam kota, belum terlihat kemacetan yang berarti, semua lancar-lancar saja. Baru setelah masuk ke tol Cikampek, jalan mulai tersendat, namun masih lumayan, gak macet total. Disana gue untuk kesekian kalinya menyaksikan bahwa lebaran adalah masa yang amat sangat ditunggu-tunggu oleh mayoritas masyarakat Indonesia, terutama yang berdomisili di Pulau Jawa.

Hal ini terbukti dengan banyaknya kendaraan yang mudik melalui tol Cikampek, - Jalan tol yang seharusnya lancar tanpa halangan, kini macet karena kebanyakan kendaraan -. Yang cukup mengharukan disini adalah betapa semangat mudik mereka sangat mengebu-gebu. Apapun dilakukan demi berkumpul di kampung halaman sat hari raya nanti.

Mulai yang kaum berada mudik menggunakan mobil mewah, menumpang bus eksekutive, pakai mobil pribadi –meskipun bukan mobil mewah- sampai yang berhimpit-himpitan diatas bak terbuka truk atau pick-up, yang tentunya cukup berbahaya bagi keselamatan mereka. Intiny Cuma satu, mudik bersama.

Hampir mendekati pintu tol di cikampek, kemacetan semakin menjadi-jadi, apalagi setelah keluar dari tol cikampek. Bolej dibayangkan, perjalanan Jakarta Cikampek yang biasanya cukup ditempuh antara 1,5 – 2 Jam, ini bisa sampe 5 Jam. Dan setelah terjebaka macet disana, akhirnya Jam 5 pagi sampai juga di daerah palimanan Cirebon untuk sekedar istriahat sejenak di rumah Mas Heru, Kakak Kandung gue yang kebetulan ga mudik kali ini.

Jam 5 pagi, setelah selesai makan sahur dan sholat subuh, kami melanjutkan perjalanan. Berhubung Pak Nur udah capek, giliran gue yang pegang kemudi. Memasuki daerah pintu tol Kanci di daerah plered, gue sengaja gak masuk tol, sementara pak nur protes kenapa gak masuk tol gue diem aja. Gue Cuma sempat bilang gini. Udah yang nyopir saya, pak Nur nurut aja. Selesai ngomong gitu, Pak Nur pun Nurut aja. Terus terang gue gak masuk Tol karena ingat pengalaman tahun kemarin yang smapai terjebak 5 jam di pintu keluar Tol Kanci. Gue gak mau hal itu terulang lagi tahun ini. Dan akhirnya yang saya khawatirkan terjadi juga. Begitu kami melewati dekat pintu tol kanci -yang karena terjadi kemacetan luar biasa, akhirnya yang lewat jalan bukan tol diarahkan ke jalur alternatif, gue menyaksikan sendiri betapa parahnya kemacetan disana- beruntunglah mobil-mobil yang tidak melalui tol, karena berdasarkan cerita tetangga di Jakarta setelah balik, dengan berangkat sama sama hari sabtu malam, tetangga gue, naik bis umum, berangkat Sabtu malam Jam 8, sampai di kebumen hari Senin pagi. Sementara gue, naik kendaraan sendiri, dari Jakarta Sabtu malam jam 8 juga, Sampai di Jogja minggu sore Jam 3.

Sepertinya pemerintah kita tidak pernah, atau tidak mau belajar untuk mengatasi persoalan yang tiap tahun pasti terjadi. Mungkin tahun depan, jika saya mudik lagi naik mobil pribadi, bisa jadi berangkat sabtu malam, sampai di Jogja baru Senin pagi.

Semoga ini tidak terjadi. Amin


2 komentar:

Anonim mengatakan...

tapi mudik menjadi sesuati yg dirindukan warga Indonesia tiap lebaran tiba ;-)

edodo mengatakan...

thanks for the comment..
Yup... hampir semua orang indonesia seperti itu..
Merantau, mencari duit dan (sebagian besar) dihabiskan saat lebaran tiba.

bagi yang beruntung, masih bisa menabung untuk mudik lebaran tahun depan... namun sayangnya, setelah balik ke perantauna lagi, mereka akan membanting tulang, menabung lagi untuk bekal pulang lebaran yang akan datang...

seperti itulah ritual khas Indonesia.....